Madura adalah nama salah satu pulau di Indonesia, yang sekaligus juga dijadikan sebutan bagi suku bangsa yang mendiaminya. Tanahnya kurang begitu subur, soalnya pulau ini ditakdirkan untuk tidak memiliki gunung berapi. Keadaan lingkungan yang semacam ini sedikit banyak juga berpengaruh pada karakter dasar penduduknya, yang cenderung keras dan pekerja keras. Kondisi ini juga memaksa masyarakat Madura untuk tidak hanya menggantungkan pada hasil tanah mereka sendiri, tetapi juga berusaha untuk bisa survive dengan cara merantau ke negeri lain di luar Madura. Sehingga wajarlah kalau orang-orang Madura hampir pasti selalu bisa ditemui di seluruh daerah di seantero tanah air.

Di lain pihak, kondisi pulau Madura yang kurang begitu menjanjikan ditinjau dari segi ekonomi, membuat daerah ini kurang begitu mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Hal ini mengakibatkan perkembangan pembangunannya terkesan begitu lambat, dan dinilai tertinggal dari daerah2 lain, terutama dari daerah di pulau jawa yang jaraknya hanya beberapa mil laut saja. Tak jarang memang muncul pertanyaan dari kaum mudanya, apakah benar tanah di pulau Madura dan area lautnya yang luas tidak menyimpan sesuatupun yang berharga yang bisa dieksplorasi untuk kepentingan bangsa? Benarkah pulau Madura “hanya” bisa menghasilkan garam?

Pertanyaan2 semacam ini memang pantas untuk diajukan sebab telah lama disinyalir ada suatu permainan (bahasa kerennya: konspirasi) dalam permasalahan ini. Ditampilkan seolah-olah tidak punya apa2 kepada dunia luar, meski sebenarnya mengandung potensi kekayaan yang lumayan besar. Betapa tidak, sejak dulu, para penambang tradisinonal, nelayan, dan penduduk pesisir pantai telah menemukan tanda2 adanya kandungan mineral (minyak bumi, gas alam, dsb) di daerah pesisir pantai dan kepulauan di Madura. Namun karena keterbatasan keahlian dan pengetahuan, maka hal itu tidak sampai ditindaklanjuti. Dugaan yang semula suram kini menjadi lebih terang setelah diketahui memang ada eksplorasi gas alam yang dilakukan di beberapa titik lepas pantai dan kepualauan oleh perusahaan asing. Lebih ironi lagi bahwa ternyata kabupaten2 yang ada di Madura tidak mendapat manfaat dari kegiatan eksplorasi tersebut.

Ah, berkaca dari permasalahan ini, memang Madura membutuhkan generasi2 yang mampu membawanya keluar dari situasi ketertinggalan. Biar tidak mudah ditipu dan dijadikan bahan olokan oleh orang luar. Syukurlah hal itu sekarang sudah mulai tampak. Semangat kaum mudanya untuk menuntut ilmu di luar Madura patut diacungi jempol. Kualitas sumber daya manusia dari Madura sudah tak bisa dipandang sebelah mata lagi. Hal itu dibuktikan dengan prestasi2 yang diraih oleh putra Madura sudah mampu menyamai orang2 dari luar Madura. Terakhir tentu kita masih ingat dengan prestasi putra Madura yang berhasil menjuara Olimpiade Fisika. Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Sekarang, permasalahannya adalah apakah mereka yang sudah berhasil menjemput mimpinya di negeri orang masih mau kembali dan membangun kampung halamannya… Jangan sampai kacang lupa sama kulitnya…

2 Comments

  1. pertama ke Madura, 13 januari 2006. Dengan alasan, pengen tau aja. Selama ini cuma dengar cerita orang. Huh..ternyata bener kata iklan,,nggak semua yang lo dengar itu bener. Bawa peta ke mulai dari tanjung perak, muter,,,melintasi sepanjang pantai dari ujung barat sampai timur, kalau di peta sih gitu. Cuma pujian aja tuh yang keluar dari seisi rombongan keluarga. Empat kota kita lewati dalam sehari..sempat nyasar di Pamekasan, mbulet di sekitar kotanya,tapi seneng baca pesan-pesan di papan besar yang religius banget, ada yang mengelitik…
    Bener-bener bagus kok..’Apa yang salah coba dengan orang Madura ?’ ( maap kita itu selama ini ternyata dah termasuk orang yang terbelenggu dengan ’stereotipe’ yang salah banget). Mampir sebentar di Kalianget,setiap ada pasar kita berhenti,,,sumpah nggak ‘ngecap’ rasanya mereka santun banget, lebih santun banget dari pedagang pasar yang ada di Surabaya.
    Pantainya bersih banget,
    Kesan pertama ke Madura ? cukup menyenangkan…
    Ayo…ayo…semangat!!Kalau jembatan Suramadu dah jadi kayaknya bakal lebih rame lagi, jadi nggak terlalu berat diongkos buat penyeberangannya.

  2. ah…suramadu…nunggu aku lulus kali selesainya :p


Post a Comment

*
*