Seorang adek bertanya kepadaku, “Kenapa ya mas Frandi kalo berbicara, terutama di depan orang banyak, suaranya sering gemeteran…kaya orang gugup gitu..?”. Kujawab bahwa memang itu adalah satu kelemahanku sekaligus sebagai kelebihanku.

Kebiasaan yang demikian…gemeteran waktu ngomong, jantung nge-beat lebih cepet, trus sering kehabisan nafas, biasanya ditambah keringat dingin…benernya bukanlah hal yang baru, malah bisa dibilang kronis mungkin. Sedikit banyak ini adalah turunan dari karakter dasarku yang katanya pemalu, walau ga sampe malu-maluin. Entahlah, semuanya terjadi begitu saja tanpa pernah kusengaja.

Kalo gitu, ini emang sempurna banget disebut sebagai kelemahan. Trus dimana letak kelebihannya?

Ya di situ itulah kelebihannya. Orang lain ga akan tahu kalo aku punya kebiasaan seperti itu kalo aku tidak pernah ngomong. Ya kan? Tapi nyatanya aku terus aja ngomong di setiap kesempatan, baik karena diminta atau karena inisiatifku sendiri. Walau gemeteran aku berusaha terus ngomong. Walau ngos-ngosan karena kehabisan napas, tak membuat aku lantas kapok buat ngomong. Keringat dinginpun tak kujadikan alasan untuk tidak pernah ngomong lagi.

Kusebut ini juga sebagai kelebihan karena terdapat unsur perjuangan di dalamnya. Titik beratnya bukan pada aktifitas ngomong-nya, tetapi lebih kepada tekad untuk melawan hambatan untuk maju yang berasal dari dalam diri sendiri. Aku sadar hal ini tidak akan membaik ke depannya bila tidak kulawan sejak sekarang.

Awalnya memang kurasa sangat sulit melakukannya. Dorongan untuk tetap diam terasa begitu mengoda daripada terus ngomong dengan resiko ditertawakan oleh banyak orang. Pada saat itu sangat sulit bagiku menyampaikan apa yang ada di pikiranku dengan benar. Alih-alih mengerti dengan apa yang aku ucapkan, orang-orang justru lebih banyak dibuat kesal karena omonganku akhirnya terkesan mbulet.

Seiring dengan perjalanan waktu, kebiasaan gemetaran itu nyatanya belum bisa hilang juga. Namun anehnya kini bukan hanya terbiasa, tetapi aku mulai bisa menikmati sensasi yang ditimbulkannya. Efeknya, meski masih sering kehabisan napas tapi aku mulai bisa menyampaikan isi pikiranku dengan benar. Justru sekarang aku jadi khawatir kalau detak jantungku masih adem ayem saja, jangan2 ini pertanda tidak baik.

Lebih jauh lagi, keinginan untuk melawan hambatan inilah yang juga turut mengantarkanku untuk mencemplungkan diri di organisasi. Dan sedikit banyak, hasil dari perjuangan itu mulai membawa manfaat buat diriku. Coba seandainya dulu ketika pertama kali merasa gemeteran dan berkeringat dingin lalu aku berhenti mencoba untuk ngomong, maka saat ini dan mungkin selamanya aku akan tetap merasa takut untuk ngomong. Dan orang2 yang saat itu menertawakanku juga tidak akan bisa membantuku.

Jadi dek…moga pengalaman yang aku bagikan ini bisa dijadikan penggerak untuk teman2 lain yang mempunyai masalah serupa supaya menjadi lebih baik. Lupakan deh komentar2 miring dari kanan kiri, karena mereka tak akan bisa membantu kalo kita mengalami kegagalan. Kesuksesan ada di tangan kita sendiri, bukan orang lain. So..kalo opa Walt Disney bilang…keep moving forward!

By the way…ehem…ehem…makasih loh dek atas perhatiannya ^_^.

5 Comments

  1. stage-fever… mengingatkan saya pada training komunikasi… ternyata banyak juga tuh manfaatnya.

  2. makanya ngeblog..biar gak kelihatan gemeteran pas nulis..hehehe

  3. @yahya
    yup, tapi training komunikasi tetap aja namanya training… ga bakal banyak manfaatnya kalo ga diaplikasikan.
    trus mending stage-fever deh daripada bloody-fever :D

    @evan
    nah ni dia. mungkin ngeblog emang bisa ngilangin gemetaran pas nulis (emang ada ya?)…tapi buat ngomong? kayanya ngeblog bukan terapi yang pas deh…

  4. ada yg bilang,
    jangan dengarkan orang2 yang berbicara negatif ttg dirimu.
    karena itu akan merampas separuh dari mimpimu.
    mau kah impianmu terampas hanya karena orang lain berkata negatif ttgmu??

  5. wah,,,ajaib ko bisa sma ya dngnku..sma2 ajaib..hehe


Post a Comment

*
*