Monthly Archives: September 2008

Suatu ketika sebuah pabrik terancam tidak bisa melanjutkan produksinya karena mesin utama yang dimilikinya rusak. Sudah berkali-kali teknisi didatangkan tetapi tetap saja tidak ada perubahan yang berarti. Kalaupun bisa berjalan kembali, tetapi tidak bisa sempurna seperti sedia kala. Hampir saja pabrik itu akan mempensiunkan mesin itu dan membeli yang baru. Sampai suatu hari ada yang menyarankan seorang teknisi lagi untuk memperbaikinya. Sang pemilik berpikir tidak ada salahnya mencoba, meskipun sebenarnya rasa pesimis sudah menggelayut di dada. Di hari saat teknisi itu datang, sang pemilik langsung yang mendampinginya memperbaiki mesin itu. Semenit, dua menit, si teknisi cuma berkeliling memperhatikan mesin yang rusak. Lalu dia mengeluarkan palu kecil dari tas perkakasnya, memperhatikan mesin itu lagi, lalu mengetukkan palu di salah satu bagiannya. Mesin dinyalakan, dan…taraa…mesin berfungsi normal kembali. Sang pemilik berterima kasih dan tersenyum lebar, namun seketika berhenti ketika si teknisi menyodorkan bill berisi biaya jasanya. $500. Sang pemilik bertanya, “Wah, mahal banget. Bukankah tadi saya melihat sendiri bahwa Anda hanya mengetukkan palu di mesin saya? Suatu hal yang bisa juga dilakukan oleh anak saya yang berumur 5 tahun. Jadi untuk apa saja $500 ini?”. Si teknisi menjawab, “Memang benar, tarif untuk mengetukkan palu itu hanya $1. Selebihnya adalah tarif karena saya tahu dimana palu itu harus diketukkan dengan benar.”

Lanjut >>

Elah…waktu pertama baca, kirain ni cerita apa. Kata temen2 sih cerita garing. Dasar diriku yang ga mudah percaya gosip, maka tertantanglah untuk membuktikannya. Setelah sebaris dua baris baca, waaahh…ternyata….guariiing puuooll… grrr….. Tapi loh kok malah keterusan bacanya sampe akhir. Tapi lumayan lah, banyak vocab baru yang aku dapet, “tembem”, “hix…hix…”, “sebel…sebel…”, hehe… Ga tau deh ni bahasa Inggris model Brit, Amrik, Aussie, ato yang lain. Fiuh… kalo kamu gmn? Vocab baru apa yg didapet?

***********************************

Aku nggak tahu apa salahku. Aku ngerasa belakangan ini dietku udah cukup ketat kok. Tapi kenapa sih sang pipi ini tetep juga melar. Mana orang-orang yang ngeliatnya pada pengen nyubitin lagi. Bikin tambah sebel. Pokoknya sebel… sebel… sebel… Sebeel banget. Apa salahku? Hix…hix…Apa jangan-jangan salah dari turunan gen-gen ayahanda dan ibunda tercinta yah yang bikin pipiku tembem begini. Gak juga ah. Mereka gak gendut kok.

I don’t know what my fault is. I feel that these days I have been keeping my diet pretty tight. But how come this my dear cheek is still stretchy. And a lot of people who take a look at it want to pinch it. It makes me more resentful. It is resentful… resentful… resentful… Veeeery resentful. What is my fault? Weep… Weep… did the fault come from the descendant from my beloved father and mother that makes my cheek really puffed-up. I don’t think so. They are not fat either.

Lanjut >>

Love what you do or do what you love. Penting gak sih? Sepertinya memang penting. Coba aja googling, banyak kok yang ngebahas soal ini. Topiknya emang menarik karena menyangkut hajat hidup orang banyak, eh… menyangkut jati diri seorang anak manusia, eh… menyangkut jalan hidup dan masa depan seorang insan…weleh… ga nemu yang pas. Tapi yang jelas emang keliatannya penting sih.
lanjut >>